“Ciputri” single origin dari Kuningan, Jawa Barat bersanding dengan Aceh Gayo.

imageSiapa bilang kedai kopi yang menyediakan kopi khas Nusantara hanya ada di Kota?

“Kang kopi Gayonya satu”. Ucap Saya.
“Penyajiannya mau pakai alat apa? Semua disini manual brewing ya a”. Ujar barista.
“Biar rasanya keluar pakai apa?”
“Pourover V60 aja”.
“Oke. Siap”.

Awal percakapan Saya dimulai dengan memesan secangkir Kopi Aceh Gayo. Harga yang tertera di menu amatlah murah, sampai Saya bertanya untuk memastikan.
“Kang ini beneran harganya?”
“Kenapa? Kaget ya?” Seru Zeze
“Emang dari mana a?”
“Saya dari Bogor”
“Oh pantesan, jangan samakan harga disana dengan disini a, hehe”. Kelakar Zeze

Tak lama secangkir kopi tersedia di hadapan Saya. Saya masih belum yakin bahwa kopi ini rasanya nikmat. Ya orang belum dicicipi!hahaha

Metode manual brewing menjadi alteratif penyajian untuk single origin coffe, kisaran harganya mulai dari 7-10 ribu saja. Untuk ukuran di Desa, harga ini masuk akal. Eits, tetapi jauh di kota sana, secangkir dengan penyajian dan jenis kopi yang sama harganya sudah mencapai di 35-45 ribu.

Kedai kopi ini berada dipinggir Jalan Raya R E Martadinata, tepat di depan Perumnas Ciporang, Kuningan, Jawa Barat. Otaku Coffe and Cake namanya.
Ruangan 3x3m, posisi kursi dan meja seperti di Kedai Ramen. Penikmat kopi dan barista dapat berinteraksi secara langsung dan melihat proses penyajian kopinya.

Saatnya ritual menikmati kopi, Aroma rempah yang keluar cukup menusuk, aciditynya lumayan kuat, bitternya strong dan aftertastenya long. Sruput nikmat. Mantav djivva.
Jam terbang sebagai Barista rupanya mempengaruhi rasa. Dan terbukti, kopi yang diolah begitu nikmat dan menarik bagi penikmatnya.

Ternyata, sang Barista sekaligus owner sudah keliling Indonesia untuk mencicipi kopi dari Sabang – Merauke.

“Kedai ini sudah berapa lama?”.
“Baru tiga bulan”.
“Engga rugi dengan harga jual segini?”.
“Engga juga, karena kita punya margin keuntungan sendiri”.

Zeze memiliki misi untuk mengenalkan kopi khas Nusantara dengan penyajian manual kepada masyarakat umum khususnya Kuningan yang belum banyak mengetahui kekayaan citarasa kopi Nusantara.

Pandangan Saya tertuju kepada satu toples biji kopi yang berlabelkan “Ciputri”.
“Itu Ciputri kopi dari mana Kang?”
“Ini dari Kuningan, Cisantana”.
“Ah serius? Kuningan punya kopi khas?”
“Iya. Mau coba?”.
“Boleh”.

Saya sangat antusias. Kopi khas Kuningan, tanah kelahiran Saya. V60 menjadi alat andalan untuk mengeluarkan rasa. Menurut Saya, Body medium, acidity medium dan bitternya medium, menjadikan balance rasa yang dihasilkan.

Kopi khas Kuningan masuk ke dalam golongan Arabika, rasa asam dan sedikit pahit namun halus di mulut begitu masuk tenggorokan rasa semakin kuat. Secara keseluruhan Saya suka kopi ini. Rasanya tidak kalah dengan kopi-kopi yang telah memiliki nama besar seperti “Gayo, Toraja, Bali Kintamani, Flores dan lainnya”.
Saya memutuskan untuk minum kopi dan menghabiskan malam selama tujuh hari di Kuningan sambil menggali ilmu tentang kopi bersama pemilik kedai yang tidak segan-segan membagi ilmunya kepada pengunjung seperti Saya.

Nampaknya malam sudah larut. Saya harus bergegas pergi mengingat sedang di Desa dengan jalanan yang sepi.

Jelajah Kuliner Kampung Arab Empang Bogor


​Jelajah Kampung Arab, dari Kue Balok sampai Kamir. Saat kebanyakan orang sibuk dengan rutinitasnya, gue lagi asyik menikmati Kue Balok dan secangkir kopi di atas trotoar pinggir Jl. Raya Empang, tepatnya di sebelah bank BRI. 

Kedai yang dikelola oleh Pak Endang selama puluhan tahun ini merupakan salah satu ikon makanan di tanah Sunda. Memang asalnya dari Garut, namun beliau sudah berjualan di Bogor dari tahun 80-an. “Dari tahun 1946 Kakek saya sudah jualan kue balok di depan gedung asrama (sekarang menjadi mall BTM) pada saat itu ada sebutan unik yaitu “Jibeuh” berasal dari bahasa Sunda, jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia “satu saja kenyang”. Konon menurut beliau porsi kue balok jaman dahulu sebesar roti tawar pada saat ini.” Ungkap Pak Endang. 

Jadwal operasionalnya selalu tetap tiap hari: buka pukul 05.00 dan tutup 14.00. Apabila adonan sudah habis, hanya kopi, susu dan teh yang dapat disajikan. Biasanya adonan habis pukul 09.00. “Dahulu, sebelum usaha ini turun ke Saya, Saya belajar dagang sama Bapak. Sambil melihat bagaimana membuat adonan dan melayani pelanggan. Kata orangtua dulu “kalau usaha tekuni saja dulu satu usaha dengan serius”. Sampai sekarang saya tidak mengganti jenis usaha Saya yaitu jualan kue balok.” Jelas Pak Endang lagi sembari membalikan adonan di atas tungku yang terbuat dari kaleng dengan arang batok sebagai sumber perapiannya. Pak Endang ini orang yang ramah, setiap orang yang lewat disapa walau hanya sekedar basa-basi. Cerita yang disampaikan seolah mengajak Saya mengenal Bogor lebih dalam khususnya kawasan Empang yang terkenal dengan Kampung Arab. 

Credit by : @robbyfr

Panganan ini sangat cocok untuk menu sarapan sebelum memulai aktivitas. Rasanya empuk, legit dan porsinya pas. Hanya dengan Rp.1.000,- Kita dapat menikmati sebuah makanan yang legendaris ini. Sedangkan secangkir kopi, susu dan teh dibanderol Rp.3.000,- Sangat ramah dikantong bukan? Pembicaraan saya terhenti ketika Pak Endang berujar “Saya juga bingung, usaha ini akan diteruskan oleh siapa?, karena anak-anak Saya tidak ada yang ingin berwirausaha dan memilih mencari pekerjaan”. 


Petualangan lidah mencari makanan legendaris saya berlanjut ke Toko Kue Kamir “Madinah” yang berlokasi di seberang Masjid Jami At-thohiriyah dekat dengan Sate Gate. “Toko ini mulai berjualan pada tahun 1994, sebelumnya kue kamir hanya disajikan bagi panganan sehari-hari keluarga, hingga akhirnya Kami buka usaha”. Ucap pak Muchsin, pemilik toko.

Kue Kamir sekilas mirip dengan Kue Dorayaki. Perbedaannya terletak pada tekstur dan rasa. Yang unik dari Kamir ini adalah: terdapat taburan biji habatussaudah (jinten hitam). konon dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemudian juga merupakan Sunah Nabi Muhammad jika mengkonsumsi habba ini. Tidak tanggung-tanggung Biji haba di toko ini pun langsung di datangkan dari Yaman. “Kalau disana sedang tidak ada, ya Kami tidak pakai biji itu di adonan”. Ujar Bu Elok, istri pemilik toko ini. 


Tidak hanya enak dan lezat saja, tapi kita akan mendapat khasiat dari biji habbatussauda setelah mengkonsumsi makanan ini. Selain Kue Kamir toko Madinah juga menyediakan Kue tradisional (talam, Bika ambon, Sarikaya) dan beraneka ragam roti. Semuanya dikerjakan sendiri di rumah dengan beberapa orang. Jika ingin kesini, lebih baik pagi. Karena jenis kuenya masih beragam.

Ngopi kuy!

 

pw2

Kopi bukan hanya sekedar minuman tapi juga telah menjadi “budaya populer” di kebanyakan masyarakat Indonesia.

Dari jaman Sekolah sampai kuliah, dari lingkungan kelas pekerja sampai profesional dan dari jaman Firaun jualan tahu bulat, soal kopi ini memang tidak pernah ada habisnya,

“Cuy ngopi lah”
“anak muda ga ngopi nih?”
“ngopi lah bray!”
“ngopi yuk pak biar Saya yang teraktir”
Bagaimana pun bahasanya, intinya ajakan ngopi ini begitu kuat.

Ajakan kaya gini seringkali beredar ketika Kita lagi di tongkrongan ataupun di cafe-cafe saat lagi sama temen atau kolega. Tapi, walau elu lagi sendirian dan gapunya temen ngopi. Santai sob, ada barista yang akan nemenin lo. Hahaha
Ada apa dengan kopi? Rupanya, kopi dapat menjadi moodboster bagi sebagian orang dan juga jadi teman ngobrol asik ngalor-ngidul.

Oke. Jadi gini, ternyata kopi Indonesia menjadi salah satu kopi favorit di luar negeri sana. Patut bangga dong sama Indonesia.
Tapi, apakah kalian udah ngopi secara benar? atau untuk saat ini masih menikmati kopi yang harganya serebu-an?? :))

Mari Kita tengok ke belakang. Untuk menghasilkan biji kopi yang dapat diolah itu prosesnya cukup panjang dan melibatkan banyak orang.

Mulai dari petani yang menanam, tengkulak yang mengumpulkan, para Q grader yang menilai karakteristik dan citarasa kopi, hingga akhirnya terdistribusikanlah kopi ke retail-retail atau produsen lalu kepada sang penikmat kopi.
Nah, kenapa kebanyakan masyarakat Indonesia masih memilih kopi instan yang tinggal seduh dan tidak mau ribet, ketimbang buat sendiri kopi; artinya dimana Kita harus nge-grind(re:menggiling) biji kopinya, berapa gram penyajiannya dan berapa suhu air panasnya sehingga karakteristik dan citarasanya dapat Kita nikmati?
Kalau sudah begini bagaimana? Siapa yang salah? Au ah gelap!

Mungkin, saat ini belum ada produsen yang berani menjual kopi khas (single origin) Indonesia jenis arabika maupun robusta yang merambah kelas menengah ke bawah. Atau sudah pernah ada yang buat kek gini tapi gak laku? Atau lagi nih. Kopi instan memang sudah menjadi budaya sejak jaman kolonialisme dari dulu dan nempel hingga saat ini lalu menjadi habit di kebanyakan masyarakat.
Lagi-lagi, mungkin soal edukasi dan Informasilah yang berperan penting dalam mencerdaskan bangsa.
*anjay :’)
Buat yang demen traveling, apalagi ke tempat-tempat seru nan eksotis, jangan lupa beli biji kopi. Terus kirim ke gue! Bisa kali~

pw3

Kuy!
Anak muda sebagai agen perubahan Kita ngopi yang bener dan jadi penikamat kopi yang cerdas.

Walau soal rasa kembali lagi kepada pribadi masing-masing.
Ingin menjadi penikmat yang seperti apa?
Awalnya, untuk yang belum terbiasa minum kopi dari bijinya bukan ekstraknya memang aneh, perlu adaptasi, tapi lama-kelamaan enak kok. Dan lidah Kita akan terbiasa atau bahkan ketagihan.

Sangat disayangkan sekali, dengan keberagaman biji kopi yang tersebar dari Sabang hingga Merauke tapi kita masih konsumsi kopi instan siap seduh?! 🙂

*mari ngopi guys 🙂

Jalur darat menuju Lombok

Hai traveler! Salam pejalan dan salam lestari. Jalan-jalan murah dengan membawa ransel besar di belakang pundak itu esensinya adalah perjalanan yang simpel dan mandiri. So, kalau toh perjalanan kalian berantakan dan jadinya ngerepotin orang lain mending gunakan cara lain.

Oke, gue engga akan bahas tipe pejalan atau jenis melakukan perjalanan.

Tulisan ini gue buat karena kerap kali beberapa temen gue bawel, nanya muluk,

“eh Wan, gimana sih caranya ke Bali naik kereta?”,

“kalau mau ke Rinjani jalur darat gimana? Terus ongkosnya berapa?”,

 “Wan, caranya lulus kuliah gimana sih?”, au amat dah!

Halo guys?! Bukan apa-apa nih ya, Kalian mau jalan-jalan murah tapi males riset! Haduh?! 

Kali ini gue akan ulas sedikit “gimana sih caranya ke Rinjani tapi jalur darat?”.

Hal yang pertama harus dilakukan adalah booking tiket kereta api jarak jauh. Bisa pesan online (gue pakai tiket.com jadwalnya lengkap dan proses pembayarannya mudah) atau datang langsung ke stasiun yang melayani pembelian tiket KA jarak jauh.

Begini jalurnya: Jakarta – Surabaya – Banyuwangi – Bali – Lombok.

Dari Jakarta banyak sekali kereta yang tujuannya Surabaya, tergantung kalian mau pakai kereta kelas apa? Ekonomi, bisnis, dan eksekutif.

Biasanya gue pakai kereta Ekonomi. Selain murah, waktu perjalanannya pun terbilang cepat.

Tampilan pemesanan tiket kereta online di tiket.com

Jakarta – Surabaya Turi dapat di tempuh hanya dengan waktu 11 jam 30 menit menggunakan KA Kertajaya, berangkat pukul 14.00 WIB dari Jakarta Pasar Senen, tiba di Surabaya Turi pukul 01.30 WIB.

Setibanya di Pasar Turi kalian harus menuju Stasiun Surabaya Gubeng, bisa naik ojeg/taxi. Karena pemberangkatan selanjutnya dari Surabaya Gubeng dengan menggunakan KA Probowangi jurusan Banyuwangi Baru.

Tiketnya langsung beli di stasiun yang melayani penjualan KA Jarak jauh (on the spot) dan tidak tersedia untuk pembelian online.

Jadwal keberangkatan pukul 04.25 WIB dan tiba di Banyuwangi Baru pukul 11.45 WIB. 7jam 20 menit.


Tiba di stasiun Banyuwangi Baru kalian bisa ngaso dulu, sekopian atau serokokan. Karena perjalanan lumayan panjang dan dihabiskan dengan duduk. Dijamin pegel! Bisa-bisa trainlag(read: kondisi tubuh merasa bergoyang padahal sedang tidak di dalam kereta). Hal ini gue rasain banget. 2hari total perjalanan kereta 18 jam 50menit.

Oke, perjalanan berikutnya, jalan kaki sekitar 500 meter ke arah Pelabuhan Ketapang(Banyuwangi) beli tiket kapal fery sendiri aja, harganya 6.500rupiah. 

*fyi: di luar pelabuhan banyak sekali bus dari Jawa yang akan menuju Bali berhenti menawarkan untuk mengantar Kalian ke terminal Ubung Denpasar.

Tapi, gue saranin lebih baik Kalian naik bus ketika sudah sampai di Bali. Kenapa? Karena beberapa kejadian teman, dapat harga sedikit lebih mahal, yaitu 60-70rb hanya sampai Denpasar. Sedangkan kita harus menuju Pelabuhan Padang Bai, Karang Asem Bali, pintu gerbang menuju Pulau Lombok.

Nah, kalo gue biasa baik busnya dari terminal Gilimanuk, cari bus ke Padang Bai, harga yang biasa di tawarkan kondektur adalah 70rb! Tapi kalian tawar aja jadi 50rb. Biasanya mereka mau.

Dengan 50rb kalian udah bisa ke Padang Bai, engga cuma sampe Terminal Ubung Denpasar. Dan di terminal Ubung Denpasar ini banyak sekali Calo. Hati-hati untuk kalian yang baru pertama kali melakukan perjalanan Jalur darat ke Pulau Dewata.

Oke lanjut, dari terminal Padang Bai, beli tiket kapal fery perorangan harganya 40rb, jika perjalanan lancar hanya ditempuh dengan waktu 4 jam. Untuk tiba di Pelabuhan Lembar.

Perjalanan laut ini tentunya dipengaruhi oleh faktor cuaca, biasanya gelombang tinggi pada sore hari menuju malam. Dan biasanya kapal pun enggan mengangkat jangkarnya.

Sesampainya di Pelabuhan Lembar Lombok, Kalian bisa nyantai lagi. Tapi, kalau kalian hanya berdua atau bertiga lebih baik cari pejalan lain yang tujuannya sama, mendaki Gunung Rinjani atau menikmati santainya kehidupan Gili. 

Jenis kendaraan yang terdapat disini adalah, carry-avanza, angkot sangat jarang sekali di temukan, jika ada pun kita harus jalan kaki terlebih dahulu ke depan gerbang pelabuhan. Tapi pasti kalian di cegat calo, mending tuh calo ajakin ngopi sambil ngobrol harga “berapa sih biaya yang harus di keluarkan untuk sampai Desa Sembalun?”. Kemarin gue dapet dengan harga 70rb/org. 

Lembar – Sembalun itu jauh loh, sekitar 4jam perjalanan. Maka tidak ayal, harga angkutannya pun lumayan. 

Sekarang gini, kalau kalian mau estafet(nyambung): Pertama: kudu cari angkot ke Mataram, dari sini cari angkutan yang ke Mandalika, terus cari yang ke Aikmel, karena tidak ada angkutan umum menuju Sembalun, biasanya banyak supir omprengan yang mengantar kebutuhan desa/org ke Sembalun menggunakan mobil colt terbuka. Lumayan ribet bukan? Dipikir-pikir lebih baik carter saja langsung, duduk-manis sampe dah di Desa terakhir pendakian Rinjani.

Kalau gue kemarin, naik colt dari Masbagik. (Karena habis mengunjungi kerabat disana).
Cihuy, segarnya pemandangan Aikmel – Sembalun. Dengan medan meliuk-liuk menanjak kalian akan dimanjakan oleh landscape khas Lombok Timur.


Hanya dengan 397rb kalian bisa menuju Desa Sembalun, Lombok.

Perjalanan darat itu memang seru dan mengasyikan, akan tetapi lumayan menghabiskan waktu. Walau Kita akan dapat banyak hal seperti: pengalaman, teman dan ilmu baru. Maka, berjalanlah selagi muda dan punya banyak waktu. Tetap nikmati perjalanannya. Karena sesungguhnya proses perjalanan ini akan selalu indah dikenang.

Oke. Segitu aja yang bisa gue kasih. Tungguin terus postingan gue seputar rute, ulasan dan catatan perjalanan di blog ini! Have a nicetrip!

Merayu Dewi Rengganis (bagian 1)

Setelah wisuda adalah momentum yang pas menurut saya untuk melakukan pendakian ke Gunung Argopuro selama 6 hari 5 malam.

“Wah, saya beneran naik gunung Argopuro nih? Gunung dengan track terpanjang di tanah Jawa? Gunung dengan cerita mistis yang tak berujung? Gunung yang menjadi saksi sejarah masa kejayaan Majapahit dan sejarah tentara gerilya di Zaman Belanda?”

Sore itu, saya berada di pinggir jalan menikmati kopi kemasan sambil memandangi barisan bukit pegunungan Hyang dari kejauhan. “Apa yang akan saya lewati selama 6 hari ke depan?” Ucap dalam hati.

Layaknya desa-desa yang pernah saya kunjungi. Sepi, lengang, bahasa lokal yang medok, dan motor bodong berseliweran. Tidak menggunakan body, knalpot racing dan tanpa helm.

“Wan, ayo jalan!” seru teman mengagetkan dari belakang. Saya langsung bergegas menggendong keril dan menarik tali di pundak agar beratnya seimbang. Berbekal nasi bungkus, perlengkapan pendakian, kamera, dan tas pinggang. Langkah saya mantap menuju gerbang pendakian gunung Argopuro via Bremi di tandai dengan gapura “Selamat datang di Danau Taman Hidup”.

Jalur pendakian gunung Argopuro ini ada dua, bisa melalui Bremi (Kabupaten Probolinggo) atau Baderan (Situbondo). Masing-masing jalur memiliki kelebihan dan kekurangan, saya memilih jalur Bremi karena terhitung pendek dan cepat hanya untuk mengejar waktu sampai ke Danau Taman Hidup tetapi jalur ini begitu terjal dan menanjak. Berbeda dengan jalur Baderan yang landai namun panjang. Bayangkan saja, untuk mencapai Cikasur paling cepat kalian akan melewatkan 2 hari itu pun kalau tidak hujan dan stamina yang prima.

Adzan ashar berkumandang saat tiba di gapura, kami berkumpul membuat lingkaran untuk berdoa dan tos. Kemudian kami kompak berseru “Argopuro! Menuju tak terbatas dan melampauinya”.

Trekking di mulai dengan menyusuri ladang penduduk dan hutan produksi (kayu, karet). Dua jam berlalu kami tiba di pintu hutan. Debu berterbangan, langit mulai gelap dan awan kelabu menemani pendakian saya sore itu.

Memasuki hutan kami break sejenak untuk melepas beban dan merokok. Rest kali ini hanya 10 menit. Hutan di penuhi pohon cemara yang batangnya menjulang tinggi, udara segar, lembab dan dingin. Mulai dari sini jalur terus menanjak dan tertutup rapatnya vegetasi. Langkah demi langkah telah saya lalui, keringat bercucuran, nafas menggebu, dan mata kunang-kunang. Jalur Bremi memiliki ciri khas yaitu kontur tanahnya miring, berlumut, akar-akar pohon melintang sepanjang jalur, batu-batu berserakan dan pohon yang tinggi.

Maghrib pun datang, kami memutuskan break untuk menunaikan shalat dan ngopi. Hawa aneh mencekam mulai terasa di malam pertama. Kami istirahat di tanah miring, di pinggiran lembah curam dengan kedalaman yang cukup dalam. Berhubung tidak dapat lahan datar, di sini teman-teman langsung sigap untuk membongkar trangia dan mengambil wudlu.

Perhatian saya tertuju kepada salah satu kawan yang sedari tadi terlihat ketakutan dengan wajah pucat pasi diam tanpa kata. Saya ingin menanyakan apa yang dia lihat tetapi tidak berani. Karena kalau di Gunung kan ada etikanya yaitu pantang untuk membicarakan “ketika seseorang melihat sesuatu (dalam artian makhluk halus) lebih baik di bicarakan nanti.

Beberapa potong roti dan kopi sachet yang di bawa dari Bogor kami santap bersama sambil bercengkrama dan mengizinkan maghrib lewat.

Selesai shalat, saya memasukkan kembali trangia dan logistik ke dalam keril dan melanjutkan perjalanan.

Menurut guide yang sekaligus kawan saya, jarak waktu dari sini ke Danau Taman Hidup hanya 4 jam. 30 menit berlalu, hawa dingin mulai menembus long jhon dan hampir menyentuh kulit. Kami terus berjalan agar tubuh bergerak dan suhu terjaga.

“Satu baris ya, jaraknya jangan jauh-jauh, nyalakan headlampnya, teriak aja kalau ada apa-apa”. Ucap leader kami.

Lampu di kepala mulai menyala, langkah mulai bersuara, barisan tertata rapi. Ah! Formasi ini yang saya suka di setiap pendakian.

Waktu berlalu lumayan lama, kegelapan mulai pekat, binatang malam memulai aktivitasnya, bintang bertaburan di angkasa, dan cahaya bulan mulai menerobos pohon rindang di hutan yang cukup rapat ini.

Semakin malam fisik saya kian melemah karena harus berebutan oksigen dengan tumbuhan yang ada di sekitar. Ketika oksigen yang masuk ke otak semakin sedikit maka peredaran darah dalam tubuh kurang lancar maka tubuh akan lemas dan capek — ini diagnosa saya.

Trek pendakian yang kami lewati untuk menuju tugu pasar setan, sama seperti jalur gunung gede setelah pos Panyancangan tetapi lebih rapat.

Mata sudah rabun, kepala mulai berat dan kaki sangat pegal. Akhirnya saya teriak “break” dan kami semua berhenti. Memandangi mata, mengecek kondisi tim satu persatu.

Saya bertanya lagi kepada guide “Mas ini berapa lama lagi kita sampai Danau?”

“Satu jam lagi”, ucap Mas Fajri

Para wanita pun nampaknya sudah lelah, terbukti dari mata yang sayu, beberapa ada yang mual ingin muntah tapi tidak bisa.

Sugesti mulai menghampiri nalar saya “aduh, kesurupan nih, mau masuk badan”. “Jangan dulu deh”, gumam saya.

Biasanya kalau badan sudah capek gini makhluk astral mulai mengganggu ingin merasuki tubuh, apalagi wanita, sangat “sensitif”. — lagi-lagi saya mengdiagnosa.

Tubuh saya mulai dingin, karena kelamaan diam, akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan sisa tenaga malam pertama yang katanya jarak hanya satu jam untuk sampai Danau Taman Hidup. Beban  wanita mulai di ungsikan kepada para pria yang masih prima.

Hampir tengah malam, kami tiba di tugu pasar setan. Kejadian aneh menimpa. Tadi, saya melihat pemimpin kelompok kami sudah turun duluan dengan menggendong keril depan belakang. Sontak saya dan teman-teman mengikutinya dari belakang. Tapi, ternyata tidak lama kemudian leader saya itu muncul dari barisan belakang “ayo kita turun, lewat sini”. Ujarnya, kemudian dia melenggang lewat di hadapan saya. Nah loh “bukannya elu udah turun bang?”, ucap saya.

Fina– teman sekelompok pendakian saya juga berujar “Lah Bang, Bukannya tadi elu udah turun duluan?” Leader saya menjawab “ah, bayangan lu pada doang kali”, “engga bang, tadi gua liat elu turun”, “gua juga liat Fin”. Saya melengkapi. Tidak lama kami menyudahi pembicaraan ini dan memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan nanti kalau sudah di bawah.

foto 1
tiga pasang kaki yang tak pernah lelah melangkah
foto2
hello!

*tunggu saja foto-foto selanjutnya. Selamat membaca.

Ramadhan di Gunung Rinjani part 1

Berkah ramadhan di Gunung Rinjani part 1

15 Juli 2014, rasanya bulan ramadhan tahun ini ada yang berbeda dari biasanya, yap sekarang hari ke-6 saya berada di luar kota. Sekarang saya sedang berada di sebuah Desa di Lombok Timur, Masbagik namanya. Siang itu saya menunggu angkutan yang akan membawa saya ke Desa Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Saya dengan dua sahabat dan dua teman aseli orang Lombok akan melakukan pendakian ke singgahsana Dewi Anjani di bulan ramadhan! Jam di tangan saya menunjukkan pukul 13.00 WITA, kendaraan yang akan ditumpangi berupa mobil colt ternyata masih bongkar muat, sedang menaikkan kebutuhan sehari-hari berupa bahan pokok ke atas mobil, barang-barang ini untuk kebutuhan sehari-hari warga Desa Sembalun. Saya hanya dikenakan tarif Rp.15.000 per orang untuk mencapai desa Sembalun, sebenarnya angkutan ini adalah kenalan anak-anak Remaja Gubug Montong (RGM) Masbagik yang biasa membawa mereka apabila melakukan pendakian. Jadi tak heran apabila saya mendapat harga murah. Tepat pukul 14.00 WITA akhirnya kami berangkat.

Dua jam sudah kami berada di kendaraan bak terbuka ini, setelah melewati Desa Aikmel dan persawahan menuju timur Pulau Lombok, akhirnya kami menuju jalur hutan yang cukup sepi, lembab dan dingin. Apabila belok kanan kita akan menuju ke pelabuhan Kayangan Pototano, pintu gerbang pulau Sumba, kami mengambil jalur kiri, jalan terus nanjak, banyak monyet di kanan-kiri sepanjang hutan. Kalau di Bogor jalur ini sama seperti menuju Puncak Cisarua. Pada saat itu cuaca mendung, awan gelap berarak tertiup angin ke arah barat. Namun pada saat mau masuk hutan kami diberikan kejutan yang luar biasa dari tanah Lombok, pemandangan ini sangat menakjubkan. Dari atas sini terlihat laut kebiruan bercampur dengan gradasi awan yang memantulkan cahayanya dan hijaunya pulau Sumbawa dari jauh, panorama ini sungguh langka buat kami yang biasa hidup di kota.

Angkutan ini berhenti sebentar di rumah warga untuk memberi titipan barang sebelum ke depan gerbang pendaftaran Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tetapi ternyata loket hari ini tutup, tidak ada orang jaga, Apa karena bulan puasa?, saya pun pesimis melihat kondisi ini. “Apakah saya bisa mendaki hari ini?” Gumam dalam hati. Harga tiket TNGR perharinya cuma Rp.5000/hari untuk wisatawan lokal, tarifnya terbilang murah, TNGR sepertinya tidak latah menaikkan harga Simaksi (Surat Izin Pendakian) seperti di Taman Nasional Gunung-gunung di Pulau Jawa. Kenapa harga tidak naik? Karena menurut informasi yang saya dapat, porter-porter menolak akan kenaikan tarif, kata mereka, hal ini dapat mempengaruhi jasanya dalam mengantar wisatawan, apabila harga tiket SIMAKSI melambung naik (desas-desusnya Rp.150.000-200.000/hari untuk Wisatawan Mancanegara) otomatis akan mengurangi pengunjung dan berpengaruh kepada pendapatannya.

Tapi karena kami diantar oleh orang Lombok aseli jadi mereka menawarkan solusi untuk lewat jalur lain. Iya, jalur lain. Dengan biaya gratis alias free (Plis jangan diikutin). Mungkin ini hanya kebetulan, atau hadiah untuk kami yang sedang puasa? Entahlah. Akhirnya kami tidak lewat pintu gerbang, melainkan lewat bawak enau, tempat ini tidak jauh dari tempat pendaftaran resmi hanya tinggal turun ke bawah saja. Konon, jalur ini sering digunakan pendaki lain untuk memotong jalan demi memangkas waktu perjalanan menunuju jembatan pertama sebelum pos satu, “mas kalo lewat sini kita nyantai saja, soalnya kita bakal motong waktu dua jam lebih cepat ketimbang lewat pintu pendaftaran” ucap Bang Kuntet yang kental akan logat lomboknya, dia sebagai guide dadakan kami. Kenapa beliau saya panggil begitu? Iya, karena emang doi pendaki aseli sana yang baiknya engga ketulungan, suka membantu orang, ulet, rajin, juga gamau bayaran dan sekaligus sahabat saya ini. Saya pernah bertanya sama beliau “bang, kok mau sih bantu kami? Kan kita belum pernah ketemu sebelumnya?” beliau hanya membalas “ya kita kan sama-sama satu hobi dan tujuan, jadi kenapa ndak membantu kalian? ini semua sukarela, saya ikhlas membantu”, aaaaah dammit!.

Jalurnya melewati perkebunan dan ladang peternakan warga setempat, dominasi rerumputan pendek seperti sabana, dimana-mana terdapat kotoran kerbau, memang hewan ternak orang sini rata-rata kerbau dan sapi. Setelah melewati beberapa kali mati dan bukit yang tidak terlalu tinggi, akhirnya kami masuk pintu hutan. Hutannya cukup rapat, walaupun bulan ini Lombok sedang musim kering, tapi hawa di hutan ini lembab dan dingin, kami hanya butuh waktu dua jam untuk sampai di jembatan pertama sebelum pos satu dari bawak enau. Rehat sejenak disini baru kami melanjutkan perjalanan, sejauh mata memandang hanya sabana-sabana pendek dan Puncak Rinjani sudah terlihat dengan jelas.

Matahari sudah condong ke Barat, waktu menunjukkan pukul 17.10 WITA. Saya dan teman-teman tiba di Shelter 1 Gunung Rinjani. Bang Kuntet sebagai leader memutuskan untuk buka puasa disini, sebelum melanjutkan perjalanan ke Shelter 3. Untuk buka puasa kami bongkar carrier untuk mengambil logistik. Gunungnya terlihat jelas, dekat sekali di mata, namun jauh di kaki. Yap itulah perkiraan saya. Akhirnya senja pun tiba, perlahan matahari mulai tenggelam, dibungkus awan dan langit berganti menjadi gelap, sinarnya yang orange cerah mampu melewati apa saja yang menghalanginya, terlihat tamparan cahaya matahari langsung ke tubuh Gunung Rinjani. Sambil menunggu adzan maghrib untuk Shalat dan buka puasa, saya ribet mengabadikan momen yang luar bisa ini. Jepret sana jepret sini sambil bergaya. Momen ini tidak akan pernah saya lupakan. Menikmati matahari terbenam bersama sahabat di bulan puasa dan di Gunung Rinjani.

Gunung Rinjani dari Shelter 1.
Gunung Rinjani dari Shelter 1. “Dekat dimata namun jauh di kaki”
Berdiri dengan latar the best sunset (ki-ka : rafli, arifah, Bang Kuntet, Penulis, Bang Gede)
Berdiri dengan latar the best sunset (ki-ka : rafli, arifah, Bang Kuntet, Penulis, Bang Gede)

Kampanye minum air putih untuk Tanjung Puting dan Labuan Cermin (Lomba Blog Pegipegi) #BukanSekedarTraveling

Tanjung Puting adalah salah satu Taman Nasional yang ada di Indonesia, luasnya sekitar 415.040 Ha tepatnya berada di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Siapa yang tidak mengetahui tempat ini? Tentunya travelers sudah banyak yang mengetahuinya. Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) berada di Kawasan Konservasi hutan di Kalimantan dan merupakan salah satu tempat rehabilitasi Orangutan terbesar di dunia, kekayaan alam Kalimantan sangat mendukung habitat asli untuk mendiami belantara TNTP. Hewan yang terkenal disini adalah Orangutan, tetapi disini juga terdapat monyet yang hidungnya khas yaitu Bekantan, beragam jenis species burung, macan tutul dahan juga masih banyak satwa liar lainnya.

Selain sebagai pusat rehabilitasi orangutan di habitatnya langsung, Tanjung Puting juga kaya akan flora dan fauna tropis. Apabila anda ingin mengunjungi tepat ini bisa menempuhnya dengan jalur udara. Mengambil penerbangan langsung menuju Pangkalan Bun dari Jakarta, Semarang, Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Untuk memudahkan pencarian tiket pesawat anda bisa berkunjung kesini , karena banyak tersedia tiket pesawat berbagai maskapai dengan penawaran harga terbaik.

Menurut data dari TNTP jumlah kunjungan Wisatawan di Tanjung Puting tahun 2013 sekitar 13.000 orang, terdiri dari 8.500 turis asing, dan 4.500 turis domestik. Bisa dilihat dari data tersebut jumlah Wisatawan Mancanegara lebih banyak ketimbang Wisatawan Nusantara, hal ini yang mendasari saya sangat ingin sekali mengunjungi langsung tempat ini, sebenarnya faktor apa yang membuat sedikitnya jumlah Wisatawan Nusantara yang berkunjung kesini? Kegiatan yang akan saya lakukan bersama Alexander Thian atau nama bekennya @aMrazing sebagai Blogger Ambasador Pegipegi.com adalah ingin mencoba naik Klotok khas tanah Borneo, menyusuri sungai dari muara hingga ke hilir, mengamati keanekaragaman flora dan fauna yang eksotis, menikmati matahari terbenam dari atas sungai, bermalam di tengah rapatnya vegetasi hutan, dan tentunya melihat tingkah laku orangutan di habitatnya langsung dan alam liar ataupun pada saat diberi makan oleh para ranger di Tanjung Harapan atau Camp Lakey.

Terkait dengan Ecotourism yang mengajak warga lokal untuk ikut andil dalam melestarikan lingkungannya, saya memiliki misi yang ingin dijalankan yaitu kampanye kebiasaan minum air putih dikalangan anak-anak. Fokus dari kampanye ini adalah anak-anak warga lokal usia 7-15 tahun yang ada di sekitaran Taman Nasional Tanjung Puting. Tujuannya mengajak dan memberi informasi mengenai pola air putih yang baik dan benar khususnya anak-anak agar lebih peduli asupan tubuhnya untuk kesehatan, melalui bantuan cakupan air putih bagi tubuhnya. Selain dapat membantu dalam menyembuhkan berbagai penyakit, air juga berguna untuk mengurangi kotoran dan racun tubuh, membantu dalam proses pencernaan dan mengantar makanan ke jaringan-jaringan tubuh, melancarkan cairan tubuh seperti darah dan kelenjar getah bening, mengatur suhu tubuh, merawat kulit agar tetap sehat, dan sebagai media untuk membantu dalam pemulihan tubuh.

Kemampuan air serta pengaruhnya terhadap daya tahan tubuh sangat luar biasa. Jika manusia tidak minum atau kurang minum selama beberapa hari. Bisa dipastikan fungsi organ-organ tubuh tersebut akan sangat bermasalah. Organ-organ tubuh akan menjadi sakit dan hal ini paling sering timbul karena kekurangan air. Saya dan mas @aMrazing akan kami menjeleskan atau memaparkan kepada anak-anak warga lokal untuk tahu mengenai peranan air putih bagi tubuh, mulai dari pengetahuan fungsi air putih, manfaat air putih dan efek dari air putih bagi tubuh. Kami juga akan meyakinkan khalayak dan mudah-mudahan target mau merubah perilakunya.

Selain anak-anak warga lokal TNTP, saya dan mas @aMrazing juga akan melakukan kampanye seperti ini kepada anak-anak yang wilayahnya dekat dengan Objek wisata Labuan Cermin. Yap, sesuai dengan namanya, air disana katanya bening seperti cermin. Danau ini berada di Desa Labuan Kelambu di Kecamatan Biduk-biduk Kalimantan Timur. Keunikan dari tempat ini bukan hanya kejernihan airnya, tetapi juga dari rasanya juga. Kabarnya, danau ini memiliki dua rasa, di atas permukaannya tawar, tapi di dasar danau ini rasanya asin.

Kegiatan yang dapat dilakukan adalah snorkeling dan juga leyeh-leyeh diatas ban yang disewakan oleh pengelola. Rasanya tidak bisa terbayang nyelem di danau dua rasa ini sambil ditemani ikan cantik lalu lalang.

Semoga misi saya ini bisa terlaksana dan mudah-mudahan sukses, inilah rencana kontribusi saya sebagai backpacker awan kepada Kemenpariwisata dalam memajukan kesejahteraan masyarakat lokal khususnya dibidang kesehatan. Mungkin hanya ini yang bisa saya tulis untuk Lomba Blog Pegipegi #BukanSekedarTraveling.

Tulisan ini pun akan saya terbitkan di akun blogdetik sebagai ekspresi saya dalam rencana kontribusi untuk masyarakat Indonesia. Semoga dapat memberi inspirasi.